Dunia yang Berbeda

Sabtu, 10 Mei’14.

Cerahnya hari itu menanti cerahnya hatiku untuk segera menyapa sang mentari. Wahai pagi yang indah, sanggupkah aku menemani mentari hari ini dengan penuh kemanfaatan diri.

Hari yang begitu indah tak akan kulewatkan begitu saja, hari itu aku punya agenda untuk mengikuti acara teman ski (itung-itung meramaikan acara adik tingkat hehe). Memang acara itu bagus materinya, jreng jreng jreng. Dengan hanya membayar kontribusi 10 ribu aku sudah mendapatkan snack tradisional, temen solehah, ilmu yang luar biasa (jenasah dan tabarruj), dan bisa liat adik tingkat yang itu tuh (niat terselubung…hihihihi). Waoww banget kan.

Dan kalian tahu, dengan kepercayaan diri yang full aku menawarkan diri untuk menjadi modelnya, tapi model buat praktik mandi jenazah sama praktik di kafani (hiii,,jadi begini rasanya), tak masalah wong pada akhirnya semua manusia juga akan begini.

Tabarruj, yang ngisi mbk Afiffah Afra (dulu sering baca bukunya), waaaaaaa, ternyata cantik banget dan si adek jg ganteng. Beliau memang so powerful, dan cita-citanya menjadi Miss Paradise. Nah, biar bisa menjadi Miss Paradise seorang wanita harus B4: Beauty, Behaviour, Brain, Brave. Aku masuk yang mana yah, sepertinya belum ada. huhuhu. yang jelas harus “ZETTAI DEKIRU”.


Setelah pulang aku mampir kerumah salah seorang sahabatku. Susi Irmawati, seorang kawan lama yang jarang kutemui. Bahkan aku hampir lupa jalan ke rumahnya. Sesampainya disana, Astaghfirullah, benarkah itu atau jangan-jangan aku yang salah melihatnya. Dia yang selalu bersemangat, tak pernah merasa lelah, bahkan kuat untuk memberikan bimbingan belajar hingga 20 orang anak. Amazing, aku saja mau ngeles 1 orang anak saja tidak dibolehkan. Lalu, ketika aku menghampirinya dia menyodorkan hasil labnya. Kubuka perlahan, gambar itu nampak seperti zig zag yang tidak teratur yang pada hasil terakhir berbentuk sangat tidak teratur. Apaan sih ini, dia berkali-kali berkata “Nin, aku ini sudah gila, lihat tuh hasil labnya”. Aku kaget dia berkata seperti itu bahkan berulang kali dia berkata seperti itu. Aku pun menyuruhnya untuk cuti kuliah, tapi dia nggak mau. Aku bingung harus melakukan apa, padahal jasanya padaku pun sangat banyak. Dalam perjalanan pulang aku sempat menangis merasakan beratnya hidup yang dia alami. Tapi aku juga senang mengetahui kebenaran bahwa dia sudah menikah. Sungguh beruntung laki-laki yang mendapatkannya.

Cinta sepaket itu cinta yang menerima apa adanya, cinta itu ketika dia tidak memandang sakit yang pernah dialami, keadaan ekonomi keluarga, rupa wajahnya, hartanya tapi yang dipandang adalah akhlak dan tanggungjawabnya sebagai hamba Allah SWT. Dia pantas mendapatkan cinta yang seperti itu.

Pelajaran berharga dari sahabatku

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s